Jumat, 27 Juni 2014

KETIKA PARPOL MEMPERKOSA MEDIA TELEVISI

            "Tahun 2014 ini, pers kita sudah terbelah, divided. Coba simak. Paling mudah simak Metro TV dan TV One," Sentul, Bogor, Selasa (3/6/2014) Begitulah gumam geram Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Republik Indonesia ke-8 yang pernah mengenyam pendidikan di US Army Command and General Staff Collage. Pernyataan SBY tersebut cukup untuk memgambarkan apa yang terjadi pada media saat ini.
Bayangkan apa yang akan terjadi jika media massa yang Lugas, terpercaya dan independen telah dinodai oleh sekelompok orang yang menginginkan seonggok jabatan demi kepentingan politiknya. Media-media tersebut akan saling cerca, saling menjatuhkan dan akan membuat suatu opini kebohongan publik dimana masyarakat hanya akan menjadi penonton fanatik diantara media tersebut. Lihat saja Tv One dan Metro TV Media-media pendukung masing masing capres dan cawapres baik pendukung Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK saling menjatuhkan lawan politik dan menaikan citra masing masing Capres dan Cawapres-nya. Isu isu saling memfitnah pun akan muncul di antara media media tersebut. Blak blakan saja, sudah menjadi rahasia umum bahwa TV One, MNC Grup (RCTI, Global TV, MNC TV) merupakan alat politik dari Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 1, sedangkan Metro TV merupakan alat politik dari capres dan Cawapres nomor urut 2.
Sudah tidak bisa ditangkal lagi, pengkonsumsi media sosial di Indonesia cukup besar. Sehingga media sosial (terutama Televisi) merupakan sasaran empuk menjadi alat politik bagi suatu partai untuk memhipnotis rakyat Indonesia. Apalagi saat menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden saat ini. Kebanyakan rakyat Indonesia ini sangat mudah terpengaruh oleh media. Mereka cepat menarik kesimpulan dan membuat opini yang disebarluaskan kepada publik pada saat mereka ngobrol di warung kopi, di cafe dan ditempat berkumpul lainnya. Sifat masyarakat inilah yang dimanfaatkan oleh oleh partai politik dengan menggunakan media sosial terutama televisi untuk memperoleh satu tujuan politik parpol tersebut. Hanya karena uang dan kekayaan didunia, media televisi mau menjual “kehormatannya” kepada parpol untuk memuaskan nafsu akan jabatan yang mereka kejar. Inilah yang terjadi saat ini. Kita sebagai masyarakat harus cerdas menanggapi hal hal tersebut.
Jika semua media telah dinodai oleh parpol-parpol, patut dipertanyaakan tentang kebenaran, keaktualan dan kepercayaan terhadap media masa saat ini. Kemana masyarakat awam ini akan mencari informasi yang benar benar informasi yang dapat dipercaya tidak memihak kepada suatu poros? Itulah gambaran kebingungan masyarakat Indonesia dan gambaran keadaan media televisi saat ini.
Sangat sulit mencari informasi yang benar benar apa adanya. Saat ini karena media massa seperti Tv One dan Metro Tv telah ternodai oleh parpol untuk memenangkan presiden pilihannya. Tidak bisa juga dipungkiri, karyawan media televisi tersebut pun harus mengikuti apa kata atasanya. Padahal masih banyak wartawan-wartawan televisi tersebut yang independen dalam pemberitaan dan pencarian informasi. Namun penjajahan parpol telah merusak keteguhan hati mereka. Mau tak mau mereka harus mengikuti arus banjir bandang karena noda yang diberikan oleh partai kepada media televisi, karena jika tidak mau merekan akan dipecat dari pekerjaannya.
Lewat media televisi, mereka setiap pasang capres dan cawapres pun mengumbar janji janji yang mereka anggap itu suci. Media televisi pun menyiarkan janji janji tersebut tanpa kenal rasa letih. Sedikit mengutip dari ayat suci Al-Qur’an tentang janji dan kebohongan “(Setan itu) memberikan janji janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka” (QS 4:120) dan “Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.”  (QS 4: 121).  Naah, kami rakyat indonesia mengharapkan janji janji yang telah terlontarkan dari mulut mulut capres dan cawapres terpilih nanti, benar benar terealisasikan saat capres terpilih nanti mengemban amanah besar (bukan jabatan) untuk Indonesia

Melihat keadaan seperti ini, yang harus kita lakukan sebagai penonton pada “dua panggung kebohongan” yang dimaikan serentak di Indonesia dalam dunia pertelevisian ini adalah kita harus cerdas dalam menanggapi permberitaan pemberitaan di televisi, kita harus mampu menganalisis apa yang terjadi sebenarnya di pemberitaan pemberitaan pertelevisian ini, jangan mudah terpengaruh akan pemberitaan miring atau pun pemberitaan yang menaikan citra suatu pasang calon. Saat inilah momen yang bisa kita jadikan titik awal dimana kita sebagai masyarakat Indonesia mampu berfikir cerdas dalam pemilihan nanti. Saat inilah momen titik awal dalam mewujudkan Indonesia yang bersih, berdaulat adil dan makmur. Semoga channel televisi ini tidak menerkam binatang didarat yang tidak bersalah bak burung elang, dan channel televisi sebelah tidak merusak apa yang ada disekitarnya bak banteng gila yang sedang mengamuk.